Lompat ke isi utama

Pers Release

Harapanku pada Matahari Demokrasi (Sebuah feature untuk Romana Peserta Pengawas Partisipatif) Oleh Indah Purnama Dewi

Hari ini, Senin, 22 Juni 2026, di Rumah Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Lembata, dilaksanakan kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif dengan tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat.”

Matahari Demokrasi

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kepemiluan dan pengawasan partisipatif, membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga integritas proses demokrasi, serta mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam mengawal setiap tahapan Pemilu 2029.

Melalui pendidikan ini, para peserta dibekali pengetahuan mengenai pengawasan pemilu, pencegahan pelanggaran teknis penanganan pelanggaran dan Teknis penyelesaian Sengketa, penguatan nilai-nilai demokrasi, serta peran strategis masyarakat sebagai mitra Bawaslu dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat.

Di tengah semangat para peserta yang memenuhi ruang pelatihan, perhatian saya tertuju pada seorang perempuan yang sejak pagi tampak begitu antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Ia adalah Faransiska Romana C. Jehaaman, salah satu peserta dari komunitas difabel Kabupaten Lembata.

Rohana

Pagi itu, Romana melangkah perlahan memasuki gerbang kantor Bawaslu Kabupaten Lembata. Dengan penuh keyakinan, ia memilih duduk di barisan paling depan. Sorot matanya menunjukkan semangat yang besar. Ia datang bukan sekadar memenuhi undangan kegiatan, tetapi membawa tekad untuk belajar dan mengambil bagian dalam upaya menjaga demokrasi.

Di sela-sela pelatihan, Romana bercerita tentang dirinya. Ia aktif dalam Forum Difabel Lembata dan selama ini berupaya terlibat dalam berbagai kegiatan bersama Bawaslu maupun KPU. Baginya, keterlibatan penyandang disabilitas dalam ruang publik merupakan bagian dari hak sekaligus tanggung jawab sebagai warga negara.

Kedekatannya dengan dunia kepemiluan bukanlah hal baru. Pada Pemilu Tahun 2024, Romana pernah menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di salah satu Tempat Pemungutan Suara di Kelurahan Lewoleba Timur. Saat itu ia bertugas menjaga meja tinta, memastikan setiap pemilih yang telah menggunakan hak pilihnya mendapatkan tanda tinta sebagai bagian dari prosedur pemungutan suara.

Pengalaman itu meninggalkan banyak cerita. Ia merasakan suka dan duka menjadi bagian dari penyelenggara pemilu. Dari pagi hingga sore ia menyaksikan bagaimana demokrasi bekerja melalui tangan-tangan sederhana yang melayani masyarakat di TPS.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” ungkapnya.

Pengalaman itulah yang mendorongnya untuk terus belajar dan terlibat dalam berbagai kegiatan kepemiluan, termasuk Pendidikan Pengawas Partisipatif yang sedang diikutinya.

Sepanjang pelatihan, Romana tampak begitu bersemangat. Ia mendengarkan materi dengan saksama, mencatat berbagai hal penting, serta aktif mengikuti setiap sesi. Saat peserta diminta mengerjakan pre-test dan post-test berbasis komputer, Romana melakukannya secara mandiri. Jemarinya lincah mengoperasikan komputer untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.

Tak hanya menjadi peserta yang aktif, Romana juga menyampaikan berbagai catatan kritis dalam diskusi. Pandangannya menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya ingin menjadi objek pelayanan demokrasi, tetapi juga ingin menjadi bagian penting dalam proses pengawasan dan penyelenggaraan pemilu.

Pada salah satu sesi kegiatan, panitia mengajak seluruh peserta menuliskan harapan mereka bagi masa depan demokrasi. Harapan-harapan itu kemudian ditempelkan pada sebuah media berbentuk matahari yang diberi nama “Matahari Demokrasi”.

Diskusi bersama

Bagi para peserta, setiap tulisan yang ditempelkan merupakan cahaya yang akan menerangi perjalanan demokrasi menuju masa depan yang lebih baik.

Satu per satu peserta maju membawa harapan mereka. Ketika gilirannya tiba, Romana berdiri perlahan. Dengan langkah yang tenang, ia berjalan menuju Matahari Demokrasi sambil menggenggam secarik kertas kecil.

Sesampainya di depan media tersebut, ia menempelkan harapannya dengan penuh keyakinan.

Di atas kertas itu tertulis:

“Meski langkahku berbeda, suaraku tetap ingin didengar. Semoga demokrasi selalu membuka ruang bagi semua, termasuk kami para difabel.”

Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang begitu dalam. Ia lahir dari pengalaman, perjuangan, dan keyakinan bahwa demokrasi yang baik adalah demokrasi yang tidak meninggalkan siapa pun.

Pesan Romana menjadi pengingat bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk didengar dan dilibatkan. Demokrasi tidak boleh membatasi seseorang karena kondisi fisiknya, tetapi harus membuka ruang bagi semua untuk berpartisipasi.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya kegiatan memasuki penghujung acara. Satu per satu peserta dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat Pendidikan Pengawas Partisipatif.

Ketika namanya disebut, Romana kembali melangkah ke depan. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya saat menerima sertifikat tersebut.

Bagi sebagian orang, sertifikat mungkin hanyalah selembar kertas tanda telah mengikuti pelatihan. Namun bagi Romana, sertifikat itu memiliki arti yang jauh lebih besar.

Sertifikat itu adalah bukti bahwa ia telah hadir, belajar, berpartisipasi, dan ikut menyuarakan harapannya. Sertifikat itu menjadi simbol bahwa dirinya memiliki tempat dalam perjalanan demokrasi.

Saat menggenggam sertifikat tersebut, saya melihat kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin karena bagi Romana, sertifikat itu bukan sekadar kertas tanpa arti. Sertifikat itu adalah tanda bahwa harapannya telah sampai.

Harapan yang sebelumnya ia titipkan pada Matahari Demokrasi kini seolah menemukan jalannya sendiri. Sebuah harapan agar setiap suara, termasuk suara penyandang disabilitas, mendapat ruang yang sama untuk didengar dan dihargai.

Sore itu Romana pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat. Ia membawa keyakinan bahwa suaranya berarti, harapannya didengar, dan langkahnya yang berbeda tetap mampu memberi cahaya bagi demokrasi yang lebih inklusif.

Di tengah langit senja Lembata, Matahari Demokrasi yang dipenuhi berbagai harapan peserta masih terpajang di sudut ruangan. Dan di antara banyak harapan yang tertempel di sana, harapan milik Romana seolah bersinar sedikit lebih terang mengingatkan kita bahwa demokrasi yang bermartabat adalah demokrasi yang membuka ruang bagi semua, tanpa terkecuali.

Pers Release